Pengkajian yang seksama terhadap syariat Islam, akan memberikan kesimpulan
bahwa Islam menetapkan beberapa tugas pokok bagi wanita.
Tugas utama (pokok) seorang wanita adalah sebagai ibu dan manajer (pengatur)
rumah tangga. Ini adalah pandangan yang jernih dan benar terhadap wanita. Sebab tugas ini hanya dikhususkan kepada wanita dan terlaksananya tugas ini akan dapat menjamin lestarinya generasi manusia serta menjamin ketenangan hidup individu manusia dalam keluarganya.
Lestarinya jenis manusia adalah suatu perkara yang sangat penting, sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan kehidupan di alam (dunia) ini. Apakah artinya usaha dunia melestarikan lingkungan hidup dan satwa-satwa tanpa memperhatikan kelestarian generasi manusia. Alam ini dan seisinya diciptakan oleh Al Khalik (Pencipta manusia) untuk menopang kehidupan manusia, agar bisa
dimanfaatkan olehnya.
Sungguh ironis sekali apa yang dilakukan oleh dunia (khususnya Barat) saat ini, yaitu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga kelestarian alam, namun disisi lain mengabaikan kelestarian manusia. Bahkan berupaya memusnahkannya (sadar atau tidak sadar). Padahal ini bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri.
Semua orang baik laki-laki maupun wanita ingin memiliki keturunan. Mereka akan merasakan kesempurnaan hidup bila sudah memiliki generasi yang bisa meneruskan keluarganya. Maka logis sekali bila pasangan suami-istri yang belum punya
keturunan (padahal sudah menikah lama) akan berusaha sekuat tenaga bagaimana
supaya bisa menghasilkan keturunan, sekalipun harus dibayar dengan harga yang
mahal.
Allah SWT telah menanamkan fitrah ke dalam diri manusia untuk mengembangkan keturunan, agar generasi manusia bisa dipertahankan kelestariannya dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi ini. Dari usaha melanjutkan
keturunan ini, Allah telah menetapkan bahwa wanitalah tempat "persemaian"
generasi manusia ini. Hal ini harus kita fahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki.
Untuk menjamin kelangsungan hidup generasi manusia ini, Allah SWT telah menetapkan beberapa hukum yang khusus untuk wanita. Diantaranya hukum tentang
kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa iddah bagi wanita
yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik, seperti:
tidak wajib bekerja untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya
boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui larangan bagi laki-laki untuk membawa anak (kecil)nya bepergian (jauh) bila
anak masih dalam pengasuhan (hadlonah) ibunya dan lain-lain
Semua hukum-hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya
terlaksana dengan baik (sebagai ibu).
Islam telah menempatkan wanita dengan tugasnya sebagai ibu sebagai posisi yang
mulia, mengingat pentingnya peran ibu dalam keberlangsungan generasi manusia.
Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya
selama + 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini. Demikian pula
dengan kerelaan dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.
Rasulullah saw bersabda:
"?Tidaklah seseorang diantara kamu merasa ridlo jika ia hamil dari hasil dengan suaminya dan suaminya merasa bangga dengan kehamilannya itu; bahwa wanita tersebut mendapat pahala sama dengan seorang prajurit yang puasa ketika
berperang di jalan Allah?(HR. Ibnu Atsir).
Peluang Wanita Berperan dalam Pendidikan Generasi
Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya selama + 9
bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun serta mengasuhnya
sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu mengurus diri sendiri dan
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah aktivitas minimal
yang harus dilakukan seorang ibu terhadap anaknya (secara langsung). Dalam
keadaan ini berarti seorang ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan
dalam proses perkembangan seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa
awal kehidupan anak ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya.
Dengan demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan
anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi dasar(basic) pada proses pendidikan selanjutnya.
Seorang anak bagaikan selembar kertas putih bersih tanpa ada coretan (tulisan)
maupun warna. Orang tuanya lah yang berperan menentukan coretan-coretan dan
warna apa yang akan diberikan pertama kali. Dan ini merupakan warna dasar yang
akan menentukan warna apa yang akan diterima/dipilih pada proses pewarnaan
selanjutnya. Kalau pewarnaan dasar telah menghasilkan warna yang khas, maka
warna dasar inilah yang akan menyeleksi warna apa yang akan diterimanya dan
diserap kemudian. Sebaliknya jika warna dasar tidak khas dan tidak jelas, maka
tidak akan ada proses seleksi untuk menerima warna berikutnya. Bisa jadi warna
apapun akan diterima sehingga menjadi warna yang berantakan (tidak khas) dan
hasilnya juga akan kacau. Demikianlah permisalan gambaran tentang proses
pendidikan pada seorang anak dalam rangka membentuk kepribadiannya. Sebab anak memang dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Tidak ada seorang anakpun yang baru lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan
suci. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani
atau Musyrik"(HR Muslim).
Seorang ibu memiliki kesempatan dan potensi yang lebih besar untuk berperan
secara langsung dalam proses pemberian warna dasar pada anak , yakni peletak
dasar/landasan pembentukan kepribadiannya. Sebab ibulah yang paling dekat
dengan anak sejak awal pertumbuhannya, sesuai dengan tugas pokoknya. Sedangkan
ayah kemungkinan besar lebih banyak di luar rumah karena menjalankan tugasnya
mencari nafkah keluarga. Sekalipun demikian, ayah tetap dituntut peran dan
tanggung jawabnya dalam proses pembentukan kepribadian anak. Sebab tugas
mendidik anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya, bukan hanya ibu.
Seorang ibu bisa memulai proses pendidikan pada anaknya sejak janin (masih
dalam kandungan). Minimal yang harus dilakukan seorang ibu terhadap janin dalam kandungannya adalah memilihkan makanan yang halal dan baik untuk membesarkan janin. Senantiasa berdzikir dan berdo'a kepada Allah SWT, ketika merasakan setiap gejala yang diakibatkan keberadaan janin dalam kandungan. Tidak mengeluh terhadap rasa sakit yang dialaminya di saat hamil, tetapi sepenuhnya berserah diri kepada Allah dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah agar tetap bisa menunaikan segala kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Berupaya menenangkan perasaan/emosionalnya dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an,
sehingga suasana hatinya tetap tenang dan ikhlas menjalani masa kehamilannya.
Sebab kondisi psikologis seorang ibu - menurut pendapat para ahli akan
berpengaruh pada perkembangan janin yang dikandungnya.
Demikian pula setelah anak lahir, ibu berperan besar untuk menciptakan kondisi
lingkungan tempat anak dibesarkan. Suara apa yang pertama didengarnya ketika
pertama kali ia bisa mendengar. Pemandangan seperti apa yang dilihatnya ketika
ia pertama kali melihat. Kata-kata apa yang diucapkannya ketika ia pertama kali berbicara. Dan lingkungan pertama yang masuk ke dalam 'rekaman kaset kosong'seorang anak adalah rumahnya. Apa-apa yang ada di dalam rumahnya itulah yang pertama direkamnya, terutama yang paling dekat kepadanya adalah ibu. Oleh
karena itu ibulah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Anehnya, saat ini banyak orang tua yang harus mengikuti kehendak anaknya. Bukan anak yang mengikuti kehendak orang tuanya. Ini sudah merupakan suatu problema yang sering muncul di kalangan orang tua saat ini. Bahkan problema ini sudah tersebar luas di mana-mana. Anak mempunyai keinginan - yang lebih besar dipengaruhi lingkungannya - yang berbeda dengan keinginan orang tuanya. Bahkan di aberani menentang orang tuanya demi mewujudkan keinginannya. Hal ini berarti orang tua telah gagal mengisi kaset kosongnya dan memberi warna dasar pada kertas putihnya, yang mampu menjadi landasan perkembangan kepribadian anak serta tolok ukur untuk menyaring informasi dan perilaku serta memilih
warna-warna yang ada di luar rumahnya, mana yang akan diambil dan mana yang
ditolak.
Wahai para muslimah?optimalkanlah peran untuk mengisi kaset-kaset kosongmu serta memberi warna dasar pada kertas-kertas putihmu yang bersih.
Terlaksananya peranmu ini sangat menentukan warna generasi di masa datang.
Potensi Wanita Muslimah dalam Pendidikan Generasi
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa peran wanita sangat besar artinya dalam pembentukan generasi di masa datang, mengingat besarnya peluang dan kesempatan
wanita (seorang ibu) berperan mengawali proses pendidikan anak-anaknya sejak
dini. Potensi dan kemampuan para wanita muslimah sangat berpengaruh besar
membentuk warna dan corak generasi umat Islam di masa datang.
Wanita yang lemah, bodoh dan berperilaku buruk akan menghasilkan generasi yang
warnanya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sebab di masa awal,anak
mendapatkan teladan yang buruk untuk membentuk eksistensi dan kepribadian
dirinya. Anak akan menyerap informasi dan perilaku apapun yang ada didekatnya
tanpa bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya kalau
wanitanya pintar (menguasai tsaqofah Islam), cerdas, kreatif, berperilaku baik
serta berkepribadian Islam yang tinggi, maka warna dasar di masa datang akan
baik. Bahkan kalau perannya berjalan optimal, wanita seperti ini akan mampu
membentuk generasi yang tangguh, yang tidak terombang-ambing oleh ombak
kehidupan. Mereka akan tetap mampu bertahan dan berdiri dengan tegar serta
kokoh prinsip hidupnya, apapun kondisi yang menghadangnya.
Seorang ibu harus mampu mendidik anak-anaknya dengan landasan rasa cinta dan
kasih sayang yang benar, sehingga anak-anaknya pun akan mempunyai rasa cinta
dan kasih sayang yang benar pula terhadap orang tua dan keluarganya. Rasa cinta
dan kasih sayang yang benar adalah yang mendahulukan rasa cinta kepada Allah
dan Rasul-Nya di atas segalanya. Dengan demikian rasa cinta pada anak tidak
akan menghalangi seorang ibu untuk mendidik anaknya menjadi mujahid yang rela
mengorbankan jiwanya untuk Islam. Demikian pula seorang anak tidak terhalangi
mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk memperjuangkan tegaknya Islam,
sekalipun harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.
Banyak sudah contoh para ibu yang berhasil mengarahkan dan mendidik anaknya
menjadi anak-anak yang patuh dan berbakti kepada orang tuanya, dan memiliki
semangat ruhiyah yang tinggi untuk mengamalkan dan memperjuangkan Islam.
Diantaranya adalah Asma' binti Abu Bakar dan Al Khansa.
Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq adalah salah seorang ibu yang patut
diteladani. Beliau telah berhasil mendidik anaknya Abdullah bin Zubair sebagai
pahlawan Islam yang tangguh imannya dan selalu menginginkan ridlo Allah dan
ridlo ibu bapaknya. Dapat kita simak dari petikan percakapan Asma' dengan
putranya Abdullah di saat-saat akhir hayatnya, ketika ia memimpin perlawanan
dalam perselisihan dan peperangannya dengan tentara-tentara Mu'awiyah dan
puteranya Yazid. Menurut Abdullah, Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan adalah
laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah muslimin, seandainya memang dapat?., karena ketidak becusannya dalam soal apapun.
Ditemuinya ibundanya Asma' dan dipaparkannya dihadapannya suasana ketika itu
secara terperinci, begitu pun mengenai akhir kesudahan yang sudah nyata tak
dapat dielakkan lagi?.
Kata Asma' kepada putranya:
"Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu,
engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu,
sabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah
penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan
budak-budak Bani Umaiyah?! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya
mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan
dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!"
Ujar Abdullah:
"Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya?! Dan sekali-kali tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas?!"
Kata Asma' pula:
"Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya. Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubair ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur?!"
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.
Beberapa hari kemudian, Abdullah bin Zubair terlibat dalam pertempuran sengit
yang tak seimbang, sehingga Syahid agung itu akhirnya menerima pukulan maut
yang menewaskannya. Tubuhnya diangkat oleh Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah,kemudian disalib untuk menghina ibunya, keluarganya dan penduduk Mekkah. Hal itu diketahui Asma'. Ia mengetahui bagaimana keberanian anaknya dan tentang kegugurannya. Ia bersyukur kepada Allah karena sang anak gugur dalam mempertahankan prinsip dan keyakinannya. Ia berdo'a kepada Allah agar tidak mati sebelum dapat mengurus jenazah anaknya yang suci itu. Do'anya dikabulkan Allah.
Sikapnya terhadap anaknya, ketika sang anak meminta nasehat kepadanya,
betul-betul suatu sikap yang membuat algojo yang paling bengis tidak berkutik.
Demikian pula Al Khansa, beliau seorang ibu yang terkenal mampu memberikan
dorongan yang kuat kepada putranya untuk berjihad. Beliau seorang ibu yang
sabar dan tabah menerima berita bahwa semua anaknya telah syahid satu demi satu dalam satu peristiwa, yaitu di peperangan Qodisyiah. Beliau merupakan contoh wanita yang mempunyai kebesaran jiwa melebihi wanita-wanita lain. Keberanian putra-putranya, keluhuran akhlaq mereka, kefasihan lidah dan keahlian mereka dalam bersyair menjadikan Al Khansa tersohor sebagai wanita yang berhasil sebagai ibu dan pantas menjadi teladan.
Al Khansa memiliki iman, kesabaran dan ketaqwaan yang mantap. Dia selalu ikut
andil dalam setiap perjuangan demi tegaknya Islam. Pada tahun 14 H, saat
terjadi perang Qodisyiah dia datang bersama keempat anaknya untuk ikut
bergabung bersama kaum muslimin lainnya. Mereka diberi bekal berupa dorongan
dan semangat dengan kata-kata yang menyala-nyala:
"Wahai putra-putraku! Kalian masuk Islam dengan penuh kesadaran. Kalian
berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia. Kalian
adalah empat bersaudara dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak akan mencampuri
kehormatan kalian, tetapi kalian telah mengetahui, apa yang dijanjikan bagi
kaum muslimin yang memerangi kaum kafir. Sadarilah?! Kehidupan akhirat lebih
kekal dan lebih baik dari kehidupan dunia yang sementara ini. Bulatkan tekad
dan kesabaran kalian. Bertaqwalah kalian selalu agar apa yang kau inginkan
berhasil.
"Wahai putra-putraku ! Jika kalian lihat api peperangan telah berkecamuk dan
menjadi dahsyat, masuklah kalian dengan semangat yang menyala-nyala. Disanalah
kalian akan menemukan keuntungan dan kehormatan di alam abadi dan kekal".
Berbekal semangat yang dipompakan ibunya itu, keempat anak Al Khansa pun
berangkat ke medan perang dengan penuh iman dan keberanian. Tujuan mereka satu
yaitu mencari syahadah, dan itu pun diperolehnya. Mereka gugur dalam
pertempuran itu. Sementara ummat Islam memperoleh kemenangan, Al Khansa
menerima kabar keadaan putranya dengan penuh sabar.
Bahkan kebanggan tumbuh dihatinya, melihat putra-putranya menjadi syuhada dalam pertempuran besar itu. Dia berkata:
"Alhamdulillah?! Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan
kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku mengharap semoga Allah mengumpulkan
aku dengan mereka di dalam rahmat-Nya kelak".
Ini adalah dua diantara sekian ibu teladan yang mampu menghantarkan
putra-putranya menjadi para mujahid yang tangguh, rela mengorbankan miliknya
yang paling berharga untuk kejayaan/ketinggian Islam. Masih ada contoh lain
para ibu yang mampu menghantarkan putranya menjadi ilmuwan bahkan mujtahid.
Diantaranya: Ibunda Imam Abu Hanifah, Ibunda Imam Syafi'I, Ibunda Imam Ahmad
bin Hambal dan Ibunda Imam Bukhari. Keempat imam ini ditinggal ayahnya sejak
kecil (yatim), ibunyalah yang memelihara dan mendampingi mereka hingga besar.
Mereka memiliki daya hafal yang tinggi sejak kecil. DI usia mudanya mereka
sudah menguasai bahasa Arab dan seluk beluknya, hafal ayat-ayat Al Qur'an dan
hadits-hadits Nabi, serta sangat gemar menuntut ilmu. Memang untuk menguasai
banyak ilmu mereka belajar dari banyak guru. Belajar bahasa Arab ke beberapa
orang guru, fiqih ke beberapa orang guru, dan hadits Nabi ke beberapa orang
guru. Tapi setidaknya ibunda para imam tersebut telah mampu mendidik mereka
menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu dan tidak kenal lelah. Satu hal yang lebih penting lagi adalah mereka punya rasa kemandirian yang tinggi sejak usia muda, sebab para imam tersebut rata-rata berada dalam kehidupan yang miskin. Mereka berusaha sendiri mencari biaya untuk kebutuhan hidupnya dan biaya perjalanan, sebab mereka belajar ke berbagai kota. Imam Ibnu Hambal misalnya, beliau pernah bekerja di tukang-tukang jahit, memungut sisa-sisa panen yang tertinggal setelah meminta ijin pada pemiliknya, mencari upah dari menenun kain dan menulis, bahkan pernah mencari upah dengan mengangkut barang-barang di perjalanan seperti kuli angkut. Semua ini beliau lakukan untuk keperluan hidupnya dan biaya perjalanannya agar bisa menuntut ilmu.
Dari contoh-contoh ini kita dapati betapa besar peran ibu mendampingi dan
mengarahkan anak-anaknya. Kemiskinanpun tidak menghalangi seorang ibu untuk
menghantarkan anak-anaknya menjadi orang yang berilmu sebab seorang ibu bisa
menanamkan rasa kemandirian yang tinggi kepada anaknya agar sanggup berkorban
apapun demi meraih kemuliaan hidupnya di hari akhir nanti (di hadapan Allah
SWT).
Dengan demikian agar peran wanita muslimah dalam pendidikan generasi di masa
datang bisa optimal untuk menghasilkan generasi para mujahid tangguh, politikus ulung dan para mujtahid, maka proses pembinaan para wanita muslimah tidak boleh dicukupkan ala kadarnya apalagi diabaikan. Para wanita muslimah harus dibina dengan tsaqofah Islam secara mapan atau mendalam, sehingga dia mampu mengarahkan dan bahkan mendidik anak-anaknya menjadi generasi-generasi yang diharapkan mampu berperan meraih kejayaan Islam kembali.
Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anak-anaknya menjadi mujahid kalau dia tidak memahami betapa mulianya kedudukan seorang mujahid. Mana mungkin seorang ibu mampu menghantarkan seorang anak menjadi ulama sementara dia buta terhadap tsaqofah Islam. Apalagi kalau dorongan ruhiyahnya tidak ada. Dorongan ruhiyah sebagai kekuatan pokok yang menggerakkan seorang ibu untuk berperan optimal. Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anaknya menjadi
pejuang-pejuang Islam kalau dirinya sendiri masih enggan berkorban untuk Islam.
Dia masih lebih mengutamakan kemapanan materi daripada berbuat sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allah. Ia masih lebih mencintai urusan dunianya daripada melakukan kewajibannya kepada Allah. Mustahil ibu seperti ini akan mampu mencetak generasi harapan umat untuk meraih kebangkitan dan kejayaan Islam kembali.
Wahai para muslimah?dengan berfikir secara jernih dan mendalam, mari kita berbenah diri, membekali diri kita dengan memperkaya tsaqofah Islam dan
membentuk ruhiyah yang tinggi agar kita menjadi ibu-ibu yang mampu mengubah
corak generasi kita, sebagai peletak dasar warna dan corak generasi manusia di
masa datang.
Khatimah
Demikianlah gambaran tentang besarnya peran dan tanggung jawab wanita dalam
proses pendidikan generasi. Namun ini baru peran minimal yang terbatas pada
lingkup keluarga serta wadah yang tidak formal. Masih ada peran lain yang harus diterjuninya sebagai wujud pelaksanaan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, yakni mendidik/membina masyarakat agar senantiasa terikat syariat Islam. Sebab wanita juga terkena kewajiban amar ma'ruf nahi munkar.
