<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><title>Make rule Allah's come true</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/</link><atom:link xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://hendraku.blog.co.uk/feed/rss2/posts/"/><description>This blog talking about everything in our life. I hope everyone can get right of think.</description><language>en-EU</language><generator>MokoFeed</generator><ttl>10</ttl><image><title>Make rule Allah's come true</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/</link><url>http://data5.blog.de/design/preview/ce/1dc7d029f283852396b1362b6fd673_160x200.jpg</url></image><item><title>Peran Dan Tanggung Jawab Wanita Dalam Dunia Pendidikan</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/peran_dan_tanggung_jawab_wanita_dalam_du~2779244/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/peran_dan_tanggung_jawab_wanita_dalam_du~2779244/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 09:18:03 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;Pengkajian yang seksama terhadap syariat Islam, akan memberikan kesimpulan&lt;br&gt;
bahwa Islam menetapkan beberapa tugas pokok bagi wanita.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tugas Utama Wanita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tugas utama (pokok) seorang wanita adalah sebagai ibu dan manajer (pengatur)&lt;br&gt;
rumah tangga. Ini adalah pandangan yang jernih dan benar terhadap wanita. Sebab tugas ini hanya dikhususkan kepada wanita dan terlaksananya tugas ini akan dapat menjamin lestarinya generasi manusia serta menjamin ketenangan hidup individu manusia dalam keluarganya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Lestarinya jenis manusia adalah suatu perkara yang sangat penting, sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan kehidupan di alam (dunia) ini. Apakah artinya usaha dunia melestarikan lingkungan hidup dan satwa-satwa tanpa memperhatikan kelestarian generasi manusia. Alam ini dan seisinya diciptakan oleh Al Khalik (Pencipta manusia) untuk menopang kehidupan manusia, agar bisa&lt;br&gt;
dimanfaatkan olehnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sungguh ironis sekali apa yang dilakukan oleh dunia (khususnya Barat) saat ini, yaitu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga kelestarian alam, namun disisi lain mengabaikan kelestarian manusia. Bahkan berupaya memusnahkannya (sadar atau tidak sadar). Padahal ini bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Semua orang baik laki-laki maupun wanita ingin memiliki keturunan. Mereka akan merasakan kesempurnaan hidup bila sudah memiliki generasi yang bisa meneruskan keluarganya. Maka logis sekali bila pasangan suami-istri yang belum punya&lt;br&gt;
keturunan (padahal sudah menikah lama) akan berusaha sekuat tenaga bagaimana&lt;br&gt;
supaya bisa menghasilkan keturunan, sekalipun harus dibayar dengan harga yang&lt;br&gt;
mahal.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Allah SWT telah menanamkan fitrah ke dalam diri manusia untuk mengembangkan keturunan, agar generasi manusia bisa dipertahankan kelestariannya dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi ini. Dari usaha melanjutkan&lt;br&gt;
keturunan ini, Allah telah menetapkan bahwa wanitalah tempat "persemaian"&lt;br&gt;
generasi manusia ini. Hal ini harus kita fahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Untuk menjamin kelangsungan hidup generasi manusia ini, Allah SWT telah menetapkan beberapa hukum yang khusus untuk wanita. Diantaranya hukum tentang&lt;br&gt;
kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa iddah bagi wanita&lt;br&gt;
yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik, seperti:&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;tidak wajib bekerja untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui larangan bagi laki-laki untuk membawa anak (kecil)nya bepergian (jauh) bila&lt;br&gt;
anak masih dalam pengasuhan (hadlonah) ibunya dan lain-lain &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Semua hukum-hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya&lt;br&gt;
terlaksana dengan baik (sebagai ibu).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Islam telah menempatkan wanita dengan tugasnya sebagai ibu sebagai posisi yang&lt;br&gt;
mulia, mengingat pentingnya peran ibu dalam keberlangsungan generasi manusia.&lt;br&gt;
Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya&lt;br&gt;
selama + 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini. Demikian pula&lt;br&gt;
dengan kerelaan dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.&lt;br&gt;
Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;"?Tidaklah seseorang diantara kamu merasa ridlo jika ia hamil dari hasil dengan suaminya dan suaminya merasa bangga dengan kehamilannya itu; bahwa wanita tersebut mendapat pahala sama dengan seorang prajurit yang puasa ketika&lt;br&gt;
berperang di jalan Allah?&lt;/em&gt;(HR. Ibnu Atsir).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Peluang Wanita Berperan dalam Pendidikan Generasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya selama + 9&lt;br&gt;
bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun serta mengasuhnya&lt;br&gt;
sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu mengurus diri sendiri dan&lt;br&gt;
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah aktivitas minimal&lt;br&gt;
yang harus dilakukan seorang ibu terhadap anaknya (secara langsung). Dalam&lt;br&gt;
keadaan ini berarti seorang ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan&lt;br&gt;
dalam proses perkembangan seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa&lt;br&gt;
awal kehidupan anak ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya.&lt;br&gt;
Dengan demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan&lt;br&gt;
anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi dasar(basic) pada proses pendidikan selanjutnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang anak bagaikan selembar kertas putih bersih tanpa ada coretan (tulisan)&lt;br&gt;
maupun warna. Orang tuanya lah yang berperan menentukan coretan-coretan dan&lt;br&gt;
warna apa yang akan diberikan pertama kali. Dan ini merupakan warna dasar yang&lt;br&gt;
akan menentukan warna apa yang akan diterima/dipilih pada proses pewarnaan&lt;br&gt;
selanjutnya. Kalau pewarnaan dasar telah menghasilkan warna yang khas, maka&lt;br&gt;
warna dasar inilah yang akan menyeleksi warna apa yang akan diterimanya dan&lt;br&gt;
diserap kemudian. Sebaliknya jika warna dasar tidak khas dan tidak jelas, maka&lt;br&gt;
tidak akan ada proses seleksi untuk menerima warna berikutnya. Bisa jadi warna&lt;br&gt;
apapun akan diterima sehingga menjadi warna yang berantakan (tidak khas) dan&lt;br&gt;
hasilnya juga akan kacau. Demikianlah permisalan gambaran tentang proses&lt;br&gt;
pendidikan pada seorang anak dalam rangka membentuk kepribadiannya. Sebab anak memang dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Sebagaimana sabda Rasulullah saw:&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Tidak ada seorang anakpun yang baru lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan&lt;br&gt;
suci. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani&lt;br&gt;
atau Musyrik"(&lt;/em&gt;HR Muslim).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang ibu memiliki kesempatan dan potensi yang lebih besar untuk berperan&lt;br&gt;
secara langsung dalam proses pemberian warna dasar pada anak , yakni peletak&lt;br&gt;
dasar/landasan pembentukan kepribadiannya. Sebab ibulah yang paling dekat&lt;br&gt;
dengan anak sejak awal pertumbuhannya, sesuai dengan tugas pokoknya. Sedangkan&lt;br&gt;
ayah kemungkinan besar lebih banyak di luar rumah karena menjalankan tugasnya&lt;br&gt;
mencari nafkah keluarga. Sekalipun demikian, ayah tetap dituntut peran dan&lt;br&gt;
tanggung jawabnya dalam proses pembentukan kepribadian anak. Sebab tugas&lt;br&gt;
mendidik anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya, bukan hanya ibu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang ibu bisa memulai proses pendidikan pada anaknya sejak janin (masih&lt;br&gt;
dalam kandungan). Minimal yang harus dilakukan seorang ibu terhadap janin dalam kandungannya adalah memilihkan makanan yang halal dan baik untuk membesarkan janin. Senantiasa berdzikir dan berdo'a kepada Allah SWT, ketika merasakan setiap gejala yang diakibatkan keberadaan janin dalam kandungan. Tidak mengeluh terhadap rasa sakit yang dialaminya di saat hamil, tetapi sepenuhnya berserah diri kepada Allah dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah agar tetap bisa menunaikan segala kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Berupaya menenangkan perasaan/emosionalnya dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an,&lt;br&gt;
sehingga suasana hatinya tetap tenang dan ikhlas menjalani masa kehamilannya.&lt;br&gt;
Sebab kondisi psikologis seorang ibu - menurut pendapat para ahli akan&lt;br&gt;
berpengaruh pada perkembangan janin yang dikandungnya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikian pula setelah anak lahir, ibu berperan besar untuk menciptakan kondisi&lt;br&gt;
lingkungan tempat anak dibesarkan. Suara apa yang pertama didengarnya ketika&lt;br&gt;
pertama kali ia bisa mendengar. Pemandangan seperti apa yang dilihatnya ketika&lt;br&gt;
ia pertama kali melihat. Kata-kata apa yang diucapkannya ketika ia pertama kali berbicara. Dan lingkungan pertama yang masuk ke dalam 'rekaman kaset kosong'seorang anak adalah rumahnya. Apa-apa yang ada di dalam rumahnya itulah yang pertama direkamnya, terutama yang paling dekat kepadanya adalah ibu. Oleh&lt;br&gt;
karena itu ibulah madrasah pertama bagi anak-anaknya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Anehnya, saat ini banyak orang tua yang harus mengikuti kehendak anaknya. Bukan anak yang mengikuti kehendak orang tuanya. Ini sudah merupakan suatu problema yang sering muncul di kalangan orang tua saat ini. Bahkan problema ini sudah tersebar luas di mana-mana. Anak mempunyai keinginan - yang lebih besar dipengaruhi lingkungannya - yang berbeda dengan keinginan orang tuanya. Bahkan di aberani menentang orang tuanya demi mewujudkan keinginannya. Hal ini berarti orang tua telah gagal mengisi kaset kosongnya dan memberi warna dasar pada kertas putihnya, yang mampu menjadi landasan perkembangan kepribadian anak serta tolok ukur untuk menyaring informasi dan perilaku serta memilih&lt;br&gt;
warna-warna yang ada di luar rumahnya, mana yang akan diambil dan mana yang&lt;br&gt;
ditolak.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wahai para muslimah?optimalkanlah peran untuk mengisi kaset-kaset kosongmu serta memberi warna dasar pada kertas-kertas putihmu yang bersih.&lt;br&gt;
Terlaksananya peranmu ini sangat menentukan warna generasi di masa datang.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Potensi Wanita Muslimah dalam Pendidikan Generasi&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa peran wanita sangat besar artinya dalam pembentukan generasi di masa datang, mengingat besarnya peluang dan kesempatan&lt;br&gt;
wanita (seorang ibu) berperan mengawali proses pendidikan anak-anaknya sejak&lt;br&gt;
dini. Potensi dan kemampuan para wanita muslimah sangat berpengaruh besar&lt;br&gt;
membentuk warna dan corak generasi umat Islam di masa datang. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wanita yang lemah, bodoh dan berperilaku buruk akan menghasilkan generasi yang&lt;br&gt;
warnanya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sebab di masa awal,anak&lt;br&gt;
mendapatkan teladan yang buruk untuk membentuk eksistensi dan kepribadian&lt;br&gt;
dirinya. Anak akan menyerap informasi dan perilaku apapun yang ada didekatnya&lt;br&gt;
tanpa bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya kalau&lt;br&gt;
wanitanya pintar (menguasai tsaqofah Islam), cerdas, kreatif, berperilaku baik&lt;br&gt;
serta berkepribadian Islam yang tinggi, maka warna dasar di masa datang akan&lt;br&gt;
baik. Bahkan kalau perannya berjalan optimal, wanita seperti ini akan mampu&lt;br&gt;
membentuk generasi yang tangguh, yang tidak terombang-ambing oleh ombak&lt;br&gt;
kehidupan. Mereka akan tetap mampu bertahan dan berdiri dengan tegar serta&lt;br&gt;
kokoh prinsip hidupnya, apapun kondisi yang menghadangnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang ibu harus mampu mendidik anak-anaknya dengan landasan rasa cinta dan&lt;br&gt;
kasih sayang yang benar, sehingga anak-anaknya pun akan mempunyai rasa cinta&lt;br&gt;
dan kasih sayang yang benar pula terhadap orang tua dan keluarganya. Rasa cinta&lt;br&gt;
dan kasih sayang yang benar adalah yang mendahulukan rasa cinta kepada Allah&lt;br&gt;
dan Rasul-Nya di atas segalanya. Dengan demikian rasa cinta pada anak tidak&lt;br&gt;
akan menghalangi seorang ibu untuk mendidik anaknya menjadi mujahid yang rela&lt;br&gt;
mengorbankan jiwanya untuk Islam. Demikian pula seorang anak tidak terhalangi&lt;br&gt;
mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk memperjuangkan tegaknya Islam,&lt;br&gt;
sekalipun harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Banyak sudah contoh para ibu yang berhasil mengarahkan dan mendidik anaknya&lt;br&gt;
menjadi anak-anak yang patuh dan berbakti kepada orang tuanya, dan memiliki&lt;br&gt;
semangat ruhiyah yang tinggi untuk mengamalkan dan memperjuangkan Islam.&lt;br&gt;
Diantaranya adalah Asma' binti Abu Bakar dan Al Khansa.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq adalah salah seorang ibu yang patut&lt;br&gt;
diteladani. Beliau telah berhasil mendidik anaknya Abdullah bin Zubair sebagai&lt;br&gt;
pahlawan Islam yang tangguh imannya dan selalu menginginkan ridlo Allah dan&lt;br&gt;
ridlo ibu bapaknya. Dapat kita simak dari petikan percakapan Asma' dengan&lt;br&gt;
putranya Abdullah di saat-saat akhir hayatnya, ketika ia memimpin perlawanan&lt;br&gt;
dalam perselisihan dan peperangannya dengan tentara-tentara Mu'awiyah dan&lt;br&gt;
puteranya Yazid. Menurut Abdullah, Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan adalah&lt;br&gt;
laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah muslimin, seandainya memang dapat?., karena ketidak becusannya dalam soal apapun.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ditemuinya ibundanya Asma' dan dipaparkannya dihadapannya suasana ketika itu&lt;br&gt;
secara terperinci, begitu pun mengenai akhir kesudahan yang sudah nyata tak&lt;br&gt;
dapat dielakkan lagi?.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kata Asma' kepada putranya:&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu! Apabila menurut keyakinanmu,&lt;br&gt;
engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu,&lt;br&gt;
sabar dan tawakallah dalam melaksanakan tugas itu sampai titik darah&lt;br&gt;
penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan&lt;br&gt;
budak-budak Bani Umaiyah?! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya&lt;br&gt;
mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan&lt;br&gt;
dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ujar Abdullah:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;"Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya?! Dan sekali-kali tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau melanggar batas?!"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kata Asma' pula:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;"Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya. Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubair ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur?!"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal.&lt;br&gt;
Beberapa hari kemudian, Abdullah bin Zubair terlibat dalam pertempuran sengit&lt;br&gt;
yang tak seimbang, sehingga Syahid agung itu akhirnya menerima pukulan maut&lt;br&gt;
yang menewaskannya. Tubuhnya diangkat oleh Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah,kemudian disalib untuk menghina ibunya, keluarganya dan penduduk Mekkah. Hal itu diketahui Asma'. Ia mengetahui bagaimana keberanian anaknya dan tentang kegugurannya. Ia bersyukur kepada Allah karena sang anak gugur dalam mempertahankan prinsip dan keyakinannya. Ia berdo'a kepada Allah agar tidak mati sebelum dapat mengurus jenazah anaknya yang suci itu. Do'anya dikabulkan Allah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sikapnya terhadap anaknya, ketika sang anak meminta nasehat kepadanya,&lt;br&gt;
betul-betul suatu sikap yang membuat algojo yang paling bengis tidak berkutik.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikian pula Al Khansa, beliau seorang ibu yang terkenal mampu memberikan&lt;br&gt;
dorongan yang kuat kepada putranya untuk berjihad. Beliau seorang ibu yang&lt;br&gt;
sabar dan tabah menerima berita bahwa semua anaknya telah syahid satu demi satu dalam satu peristiwa, yaitu di peperangan Qodisyiah. Beliau merupakan contoh wanita yang mempunyai kebesaran jiwa melebihi wanita-wanita lain. Keberanian putra-putranya, keluhuran akhlaq mereka, kefasihan lidah dan keahlian mereka dalam bersyair menjadikan Al Khansa tersohor sebagai wanita yang berhasil sebagai ibu dan pantas menjadi teladan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Al Khansa memiliki iman, kesabaran dan ketaqwaan yang mantap. Dia selalu ikut&lt;br&gt;
andil dalam setiap perjuangan demi tegaknya Islam. Pada tahun 14 H, saat&lt;br&gt;
terjadi perang Qodisyiah dia datang bersama keempat anaknya untuk ikut&lt;br&gt;
bergabung bersama kaum muslimin lainnya. Mereka diberi bekal berupa dorongan&lt;br&gt;
dan semangat dengan kata-kata yang menyala-nyala:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;"Wahai putra-putraku! Kalian masuk Islam dengan penuh kesadaran. Kalian&lt;br&gt;
berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia. Kalian&lt;br&gt;
adalah empat bersaudara dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak akan mencampuri&lt;br&gt;
kehormatan kalian, tetapi kalian telah mengetahui, apa yang dijanjikan bagi&lt;br&gt;
kaum muslimin yang memerangi kaum kafir. Sadarilah?! Kehidupan akhirat lebih&lt;br&gt;
kekal dan lebih baik dari kehidupan dunia yang sementara ini. Bulatkan tekad&lt;br&gt;
dan kesabaran kalian. Bertaqwalah kalian selalu agar apa yang kau inginkan&lt;br&gt;
berhasil.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Wahai putra-putraku ! Jika kalian lihat api peperangan telah berkecamuk dan&lt;br&gt;
menjadi dahsyat, masuklah kalian dengan semangat yang menyala-nyala. Disanalah&lt;br&gt;
kalian akan menemukan keuntungan dan kehormatan di alam abadi dan kekal".&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Berbekal semangat yang dipompakan ibunya itu, keempat anak Al Khansa pun&lt;br&gt;
berangkat ke medan perang dengan penuh iman dan keberanian. Tujuan mereka satu&lt;br&gt;
yaitu mencari syahadah, dan itu pun diperolehnya. Mereka gugur dalam&lt;br&gt;
pertempuran itu. Sementara ummat Islam memperoleh kemenangan, Al Khansa&lt;br&gt;
menerima kabar keadaan putranya dengan penuh sabar. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bahkan kebanggan tumbuh dihatinya, melihat putra-putranya menjadi syuhada dalam pertempuran besar itu. Dia berkata:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;"Alhamdulillah?! Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan&lt;br&gt;
kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku mengharap semoga Allah mengumpulkan&lt;br&gt;
aku dengan mereka di dalam rahmat-Nya kelak".&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ini adalah dua diantara sekian ibu teladan yang mampu menghantarkan&lt;br&gt;
putra-putranya menjadi para mujahid yang tangguh, rela mengorbankan miliknya&lt;br&gt;
yang paling berharga untuk kejayaan/ketinggian Islam. Masih ada contoh lain&lt;br&gt;
para ibu yang mampu menghantarkan putranya menjadi ilmuwan bahkan mujtahid.&lt;br&gt;
Diantaranya: Ibunda Imam Abu Hanifah, Ibunda Imam Syafi'I, Ibunda Imam Ahmad&lt;br&gt;
bin Hambal dan Ibunda Imam Bukhari. Keempat imam ini ditinggal ayahnya sejak&lt;br&gt;
kecil (yatim), ibunyalah yang memelihara dan mendampingi mereka hingga besar.&lt;br&gt;
Mereka memiliki daya hafal yang tinggi sejak kecil. DI usia mudanya mereka&lt;br&gt;
sudah menguasai bahasa Arab dan seluk beluknya, hafal ayat-ayat Al Qur'an dan&lt;br&gt;
hadits-hadits Nabi, serta sangat gemar menuntut ilmu. Memang untuk menguasai&lt;br&gt;
banyak ilmu mereka belajar dari banyak guru. Belajar bahasa Arab ke beberapa&lt;br&gt;
orang guru, fiqih ke beberapa orang guru, dan hadits Nabi ke beberapa orang&lt;br&gt;
guru. Tapi setidaknya ibunda para imam tersebut telah mampu mendidik mereka&lt;br&gt;
menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu dan tidak kenal lelah. Satu hal yang lebih penting lagi adalah mereka punya rasa kemandirian yang tinggi sejak usia muda, sebab para imam tersebut rata-rata berada dalam kehidupan yang miskin. Mereka berusaha sendiri mencari biaya untuk kebutuhan hidupnya dan biaya perjalanan, sebab mereka belajar ke berbagai kota. Imam Ibnu Hambal misalnya, beliau pernah bekerja di tukang-tukang jahit, memungut sisa-sisa panen yang tertinggal setelah meminta ijin pada pemiliknya, mencari upah dari menenun kain dan menulis, bahkan pernah mencari upah dengan mengangkut barang-barang di perjalanan seperti kuli angkut. Semua ini beliau lakukan untuk keperluan hidupnya dan biaya perjalanannya agar bisa menuntut ilmu. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari contoh-contoh ini kita dapati betapa besar peran ibu mendampingi dan&lt;br&gt;
mengarahkan anak-anaknya. Kemiskinanpun tidak menghalangi seorang ibu untuk&lt;br&gt;
menghantarkan anak-anaknya menjadi orang yang berilmu sebab seorang ibu bisa&lt;br&gt;
menanamkan rasa kemandirian yang tinggi kepada anaknya agar sanggup berkorban&lt;br&gt;
apapun demi meraih kemuliaan hidupnya di hari akhir nanti (di hadapan Allah&lt;br&gt;
SWT).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dengan demikian agar peran wanita muslimah dalam pendidikan generasi di masa&lt;br&gt;
datang bisa optimal untuk menghasilkan generasi para mujahid tangguh, politikus ulung dan para mujtahid, maka proses pembinaan para wanita muslimah tidak boleh dicukupkan ala kadarnya apalagi diabaikan. Para wanita muslimah harus dibina dengan tsaqofah Islam secara mapan atau mendalam, sehingga dia mampu mengarahkan dan bahkan mendidik anak-anaknya menjadi generasi-generasi yang diharapkan mampu berperan meraih kejayaan Islam kembali. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anak-anaknya menjadi mujahid kalau dia tidak memahami betapa mulianya kedudukan seorang mujahid. Mana mungkin seorang ibu mampu menghantarkan seorang anak menjadi ulama sementara dia buta terhadap tsaqofah Islam. Apalagi kalau dorongan ruhiyahnya tidak ada. Dorongan ruhiyah sebagai kekuatan pokok yang menggerakkan seorang ibu untuk berperan optimal. Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anaknya menjadi&lt;br&gt;
pejuang-pejuang Islam kalau dirinya sendiri masih enggan berkorban untuk Islam. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dia masih lebih mengutamakan kemapanan materi daripada berbuat sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allah. Ia masih lebih mencintai urusan dunianya daripada melakukan kewajibannya kepada Allah. Mustahil ibu seperti ini akan mampu mencetak generasi harapan umat untuk meraih kebangkitan dan kejayaan Islam kembali.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wahai para muslimah?dengan berfikir secara jernih dan mendalam, mari kita berbenah diri, membekali diri kita dengan memperkaya tsaqofah Islam dan&lt;br&gt;
membentuk ruhiyah yang tinggi agar kita menjadi ibu-ibu yang mampu mengubah&lt;br&gt;
corak generasi kita, sebagai peletak dasar warna dan corak generasi manusia di&lt;br&gt;
masa datang.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Khatimah&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Demikianlah gambaran tentang besarnya peran dan tanggung jawab wanita dalam&lt;br&gt;
proses pendidikan generasi. Namun ini baru peran minimal yang terbatas pada&lt;br&gt;
lingkup keluarga serta wadah yang tidak formal. Masih ada peran lain yang harus diterjuninya sebagai wujud pelaksanaan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, yakni mendidik/membina masyarakat agar senantiasa terikat syariat Islam. Sebab wanita juga terkena kewajiban amar ma'ruf nahi munkar.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/peran_dan_tanggung_jawab_wanita_dalam_du~2779244/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>kabar</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/peran_dan_tanggung_jawab_wanita_dalam_du~2779244/#comments</comments></item><item><title>Mendidik Bukan Hanya Sekedar Menyekolahkan!</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_bukan_hanya_sekedar_menyekolahk~2779189/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/mendidik_bukan_hanya_sekedar_menyekolahk~2779189/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 09:05:41 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;Data sensus penduduk di negeri ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya beragama islam. Ini adalah sebuah realita yang seharusnya dengannya kita bisa melihat adanya sebuah generasi yang tangguh, tetapi ternyata tidak.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mari kita lihat keadaan diri dan anak-anak kita. Kenyataannya masih sangat sedikit yang benar-benar serius memperhatikan pendidikan. Sebagian besar acuh dan tidak peduli…&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mungkin banyak yang merasa keberatan dengan pernyataan di atas dan menyanggah: “TIDAK! Saya memperhatikan pendidikan anak-anak saya! Saya akan melakukan segalanya demi pendidikan mereka. Seandainya harus menjual tanah, saya akan melakukannya untuk bisa menyekolahkan mereka sampai jadi sarjana! Biarpun saya cuma lulusan SMP, tapi saya ingin anak saya berpendidikan tinggi!”&lt;br&gt;
Seperti inilah yang kebanyakan kita pahami tentang kewajiban mendidik anak, yaitu menyekolahkan anak sampai tinggi, atau bagaimana supaya anak menjadi cerdas, pintar, dan tidak gagap teknologi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Untuk bisa menyekolahkan anak sampai sarjana, kita rela menjual tanah atau cari hutangan tapi untuk agama mereka kita tidak peduli.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kita bisa geger ketika melihat nilai matematika anak kita dapat angka 3, lalu segera keliling cari tempat kursus yang bagus untuknya. Tapi kita tidak peduli (baca: tidak geger) ketika anak kita diajari pelajaran PPKN di sekolah; anak kita diajari bahwa agama di Indonesia ini ada lima dan semua agama itu sama. Semuanya mengajarkan kebaikan, jadi harus saling menghormati. Padahal telah nyata kebenaran bahwa agama yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhoi hanyalah islam. Kata “hanyalah” menunjukkan bahwa tidak ada yang lain. Hal ini termasuk hal yang besar bagi seorang muslim yang tidak layak untuk disepelekan karena ini menyangkut aqidah seseorang.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kebanyakan dari kita, seandainya pun memperhatikan kelakuan anak, berkelakuan baik yang dimaksud tolok ukurnya adalah masyarakat. Jadi ketika melihat putri kesayangan jalan-jalan ke mall dengan pakaian ‘pas-pasan’ bersama teman laki-lakinya, ini –menurut pengertian di sini- masih termasuk dalam kriteria ‘berkelakuan baik dan tidak nakal’ karena masyarakat menganggap wajar bagi seorang ABG. Atau ketika putra kesayangan membeli majalah untuk melihat horoscope (ramalan bintang), ini juga masih masuk dalam kriteria ‘berkelakuan baik dan tidak nakal’ karena masyarakat juga menganggap ini adalah hal yang lumrah. Padahal jika dilihat dari tolok ukur yang benar, keduanya bertentangan dengan syariat.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai para pendidik!&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Sikap mendidik yang seperti ini secara tidak langsung seperti kita mengatakan pada anak kita: “Wahai anakku! Kejarlah duniamu! Lupakan akhiratmu!”&lt;br&gt;
Padahal tentang kehidupan dunia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:&lt;br&gt;
“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir.”&lt;br&gt;
(HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)&lt;br&gt;
Bahkan Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tapi bodoh dalam urusan akhirat. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda yang artinya:&lt;br&gt;
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:&lt;br&gt;
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Qs. Ar Rum:7)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ayat di atas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Adapun para ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut,&lt;br&gt;
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/428)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya akan merusak dirinya. Yang tahu kehancuran mereka adalah insan yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, akan dilalaikan oleh Allah ‘azza wa jalla dan tergolong orang fasik. Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah ‘azza wa jalla dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidup mereka bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya yang salah, mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan untuk merusak dirinya sendiri.” (Taisir karimir Rahman 4/75)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dunia oh… dunia!&lt;br&gt;
Membuat lalai para pengejarnya!&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Perhatikanlah dalam hadis ini bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala mengancam dengan kehinaan jika umat islam sibuk dalam urusan dunia dan lalai dari urusan akhirat!&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Diriwayatkan oleh ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bahwa beliau bersabda yang artinya:&lt;br&gt;
“Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (satu barang dengan dua harga-termasuk salah satu jenis riba) dan kalian sibuk dengan urusan peternakan serta urusan pertanian dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kerendahan kepada kalian yang tidak akan dicabut dari kalian sebelum kalian kembali kepada agama kalian.” (Riwayat Abu Daud (3462) dan riwayat ini shahih)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai pendidik!&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Untuk mengangkat umat ini dari kehinaan Allah telah memberi solusi, yaitu dengan kembali pada dien yang lurus. Kondisi kaum muslimin saat ini masih jauh dari nilai-nilai islam. Kita bisa melihat saat adzan dzuhur dikumandangkan, masjid-masjid sepi dari para jamaah padahal pada waktu yang bersamaan pasar-pasar dan jalan-jalan ramai dipenuhi oleh kaum muslimin.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kita juga bisa melihat orang-orang yang berusaha untuk berpegang teguh pada sunnah dianggap aneh. Seperti misalnya celana cingkrang (di atas mata kaki), jenggot, jilbab syar’i, tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis, menjauh dari ibadah-ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan masih banyak lagi. Ini adalah keadaan yang menyedihkan karena syariat islam dipandang asing oleh pemeluknya sendiri.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mari kita belajar dari doa Nabi Ibrohim ‘alaihissalam. Ketika beliau berdoa tentang anak dan keturunannya, pandangannya jauh kedepan. Tidak sekedar pada kenikmatan-kenikmatan dunia. Tetapi yang beliau harapkan adalah agar Allah menjadikan mereka sebagai umat yang tunduk patuh pada-Nya, mengutus rasul pada mereka sehingga tidak tersesat dalam kegelapan, menjauhkan mereka dari dosa terbesar yang membinasakan (syirik).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikianlah wahai para pendidik!&lt;br&gt;
Tujuan kita adalah tujuan yang mulia!&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mengajak generasi meniti jalan yang lurus untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tujuan kita bukan sekedar berapa nilai matematika anak kita, bagaimana kemampuan bahasa inggrisnya, dapat rangking berapa, bisa masuk universitas mana, bisa kerja dimana, bisa belikan kita mobil berapa, atau bisa jadi pejabat tidak.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tidak sependek itu!&lt;br&gt;
Tidak sekedar anak kita bisa menyelesaikan ujian akhir semester dengan sukses dan melupakan yang lain padahal ada ujian yang menanti yang jauh lebih besar ketika kita ditanya siapa Robbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.&lt;br&gt;
Maka seharusnya kita segera mempersiapkan diri.&lt;br&gt;
Mendidik diri-diri kita dan keluarga untuk kembali pada dien ini.&lt;br&gt;
Menempuh jalan yang lurus meski jalan itu terasa asing karena sedikitnya pengikut.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kembali pada al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman salafush sholih.&lt;br&gt;
Terangkatnya kemuliaan umat ini adalah dengan kembali pada dien yang lurus. Bukan dengan harta atau kekuasaan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seandainya mulia itu dengan kekuasaan, tentu Firaun termasuk ke dalam orang-orang yang mulia.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seandainya mulia itu dengan harta, tentu Qorun lebih mulia dari kita.&lt;br&gt;
Kita jadi sadar bahwa ternyata memang masih sedikit yang benar-benar memperhatikan pendidikan generasi ini.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Duhai pendidik sejati! Kemana harus dicari?&lt;br&gt;
&lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_bukan_hanya_sekedar_menyekolahk~2779189/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>kabar</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_bukan_hanya_sekedar_menyekolahk~2779189/#comments</comments></item><item><title>Mendidik Anak Taat Syariah</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_anak_taat_syariah~2778740/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/mendidik_anak_taat_syariah~2778740/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 06:59:25 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.&lt;br&gt;
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”&lt;br&gt;
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.&lt;br&gt;
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”&lt;br&gt;
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.&lt;br&gt;
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi&lt;/em&gt;. (HR al-Bukhari).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kerjasama Ayah dan Ibu&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
1. Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.&lt;br&gt;
2. Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.&lt;br&gt;
3. Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.&lt;br&gt;
4. Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.&lt;br&gt;
5. Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.&lt;br&gt;
6. Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.&lt;br&gt;
7. Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.&lt;br&gt;
8. Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.&lt;br&gt;
9. Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_anak_taat_syariah~2778740/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>kabar</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/mendidik_anak_taat_syariah~2778740/#comments</comments></item><item><title>Qada'</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/qada~2778613/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/qada~2778613/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 05:54:59 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;HR. Ali ra, ia berkata:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Bagi Gharqad (sebuh tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw, menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebtang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;”Tidak ada seorang pun dari kamu seklaian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup keculai telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara atauakah sebagai seorang yang bahagia.”&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;”Wahai Rasululla! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rasulullah saw. bersabda:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;”Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka ia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang sengsara."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kemudian beliau melanjutkan sabdanya:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;”Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapaun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengasara.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kemudian beliau membaca ayat berikut:&lt;br&gt;
&lt;em&gt;”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(TQS.Al-Lail:5)&lt;/strong&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/qada~2778613/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>hadits</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/qada~2778613/#comments</comments></item><item><title>Bagaimana Memilih Laptop?</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/bagaimana_memilih_laptop~2778592/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/bagaimana_memilih_laptop~2778592/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 05:31:31 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;Jakarta, Laptop sepertinya sudah bukan menjadi barang mewah lagi. Mereka yang mobilitasnya tinggi dan sering bepergian, memilih laptop sebagai 'teman sejati' yang menemani setiap pekerjaan mereka kemanapun mereka pergi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Namun tak sedikit konsumen yang bimbang dan kebingungan saat ingin membeli laptop baru mengingat laptop bukanlah barang murah. Terlebih lagi saat ini bermunculan berbagai jenis laptop dengan beragam spesifikasi dan merk, pun harganya bervariasi. Tak jarang pula konsumen membeli laptop dengan spesifikasi yang 'wah' tanpa memikirkan kegunaannya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Terlepas dari ketersediaan dana, bagaimana memilih laptop yang sesuai dengan kebutuhan? Simak beberapa tips singkat yang diramu detikINET.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;Tentukan dulu kegunaannya, apakah laptop akan dipakai untuk disain dan gaming, men-develop sistem, atau mobile.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Jika laptop dipakai untuk tujuan disain dan gaming, sebaiknya Anda memilih spesifikasi laptop dengan menitikberatkan pada kartu VGA (Video Graphics Array) dan memori yang handal. Jika Anda ingin laptop dengan kemampuan lebih tinggi, memilih teknologi multi-core dan arsitektur 64-bit sangat disarankan.&lt;br&gt;
Untuk penggunaan disain grafis ataupun bermain game, sebaiknya pilih laptop dengan VGA yang tinggi kekuatannya dan memori yang besar agar disain dan bermain game terasa lebih 'ringan'. Kartu VGA sendiri berguna untuk menerjemahkan output komputer ke monitor. Sedangkan memori merupakan sebuat alat penyimpan data digital sementara yang biasanya mempunyai kapasitas ukuran berdasarkan standard bit digital yaitu 16MB, 32MB, 64MB, 128MB, 256MB dan seterusnya (kelipatan dua).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Untuk developing, biasanya dibutuhkan software develop yang membutuhkan resource tinggi. Anda bisa memilih laptop dengan mempertimbangkan prosesor dan memori dengan spesifikasi tinggi agar bisa mengimbangi perkembangan piranti lunak dan developing tools yang kian hari kian 'rakus' memori. Teknologi multi-core dan arsitektur 64-bit juga disarankan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Untuk mobile, Anda bisa menekankan pilihan pada umur baterai, berat laptop, ukuran layar, serta beberapa fitur internal konektifitas seperti wifi, bluetooth, IrDA, NetworkCard, Modem.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;Terlepas dari pemilihan penggunaan, beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih laptop adalah soal besar layar, berat laptop dan umur baterai. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Jika Anda akan sering memakai laptop di perjalanan, sebaiknya pilih laptop yang ringan, dengan ukuran layar yang tidak terlalu besar agar tidak kesulitan membawanya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Umur baterai juga patut dipertimbangkan. Umumnya baterai laptop paling tidak bisa bertahan 2 hingga 3 jam tanpa terhubung ke adapter. Jika Anda ingin menghemat penggunaan baterai, matikan fungsi konektifitas seperti Wifi atau Bluetooth karena fungsi tersebut akan memperbanyak konsumsi baterai.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertimbangkan layanan purna jualnya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Saat hendak membeli laptop, jangan lupa untuk mempertimbangkan layanan purna jualnya mulai dari gerai service (banyak atau tidak, mudah dijangkau atau tidak), ketersediaan spare parts serta harga jual kembali. Disarankan, jangan membeli laptop yang spare parts-nya sulit dicari. (dwn/dwn)
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/bagaimana_memilih_laptop~2778592/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>tips-trik</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/bagaimana_memilih_laptop~2778592/#comments</comments></item><item><title>Tips Membeli Kamera Digital</title><link>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/tips_membeli_kamera_digital~2778567/</link><guid isPermaLink="false">tag:hendraku.blog.co.uk,2007-08-09:/2007/08/09/tips_membeli_kamera_digital~2778567/</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 05:02:46 +0200</pubDate><description>	&lt;p&gt;Semakin lama, kita semakin menyadari, bahwa kebutuhan kita akan pendokumentasian suatu moment sangatlah penting. Dengan kamera digital, kita akan semakin mudah dalam mewujudkan keinginan kita tersebut. Namun, sebelum membeli kamera digital, ada beberapa tips yang dapat dijadikan pegangan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sesuaikan keperluan Megapixel&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Banyak iklan yang mengexpose megapixel, namun banyak juga dari kita tidak mengerti sampai sebesar apa megapixel yang kita butuhkan. Biasanya, semakin besar megapixel dari sebuah kamera, harganya juga akan semakin mahal, namun untuk kualitas gambar, megapixel yang besar tidak menjamin kualitas yang baik. Sebuah kamera digital dengan 2 megapixel sudah cukup untuk foto sehari-hari dan cukup untuk dilihat di layar komputer dan dicetak sampai dengan ukuran 6R. Jika anda berencana mencetak pada ukuran lebih besar, setidaknya diperlukan 3 megapixel. Selanjutnya jika masih mau mencetak lebih besar lagi, maka megapixel yang semakin besar sangat anda butuhkan. Namun jika dipaksakan, kamera dengan megapixel yang kecil masih bisa mencetak pada ukuran kertas yang besar, namun kadang-kadang hasilnya akan terlihat kabur. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perhatikan battery dan chargernya&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Jika kamera anda menggunakan battery lithium, pemakaiannya tidak terlalu memerlukan banyak perhatian, cukup dicharge dan pakai, kalo selesai dipakai, silahkan di charge lagi. Bebeberapa kamera menggunakan battery jenis AA. Untuk jenis ini, kita bisa memilik menggunakan battery Alkaline, atau battery yang bisa diisi ulang. Kami selalu menyarankan setiap user untuk menggunakan battery jenis isi ulang dibandingkan jenis Alkaline, memang harga battery isi ulang sedikit lebih mahal dibandingkan Alkaline, tetapi kemampuanya dipakai beberapa kali (diisi ulang bisa sampai 500x pemakaian normal), maka harga battery ini akan menjadi jauh lebih murah. Penjelasan detail tentang battery ini, bisa dicari di artikel lain pada situs ini. Tetapi harap berhati-hati untuk tidak membeli battery isi ulang jenis AA yang palsu, karena sekarang sudah banyak beredar dipasaran.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Optical Zoom (dan Digital Zoom)&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Perbesaran gambar secara optical (ini berbeda dengan digital zoom). Usahakan kita mendapatkan kamera dengan minimal 2x optical zoom. Sebagian besar kamera digital mempunyai fasilitas optical zoom, dan ini sangat berguna buat kepentingan kita mengabil gambar untuk jarak yang agak jauh dari tempat kita. Jangan terkecoh dengan digital zoom, rata-rata kamera digital semuanya mempunyai fasilitas digital zoom, namun hasil perbesaran dengan digital zoom akan mengakibatkan hasil foto kita jadi pecah dan tidak jelas. Sebaiknya apabila tidak terpaksa, usahakan untuk selalu menghindari pemakaian digital zoom. Digital zoom dapat juga di lakukan dengan software di PC. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fasilitas Bantuan untuk low-light&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Pada kondisi cahaya yang tidak terang, biasanya kamera akan kesulitan mendapatkan focus sebelum kita shoot object tersebut. Oleh karena itu, beberapa kamera digital dilengkapi dengan lampu bantuan (bentuknya bermacam-macam) yang berfungsi untuk membantu pengambilan foto pada tempat yang kurang cahaya. Ini sangat penting terutama pada pengambilan foto di dalam ruangan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perhatikan Memory Storagenya&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Beberapa kamera mempunyai memory internal didalamnya, tetapi biasanya kapasitasnya tidak terlalu besar. Oleh sebab itu, kita harus memastikan bahwa kamera digital kita dilengkapi dengan port untuk memory external, sehingga kita dapat memberikan tambahan memory sesuai dngan kebutuhan kita. Ada berbagai macam jenis memory yang dapat dipakai pada kamera digital, jenis dan bentuknya biasanya disesuaikan dengan jenis kamera digital tersebut. Harganya bervariasi, namun semakin besar kapasitasnya, maka harganya akan semakin mahal juga. Internal memory yang ada pada kamera digital bisa anda abaikan bila kamera digital tersebut tidak memiliki fasilitas tersebut. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cobalah kamera tersebut sebelum membeli&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Kamera digital hampir sama dengan digital media lainnya, biasanya dilengkapi dengan menu dan tombol-tombol pengontrol untuk disesuaikan dengan keperluan kita. Beberapa amera memiliki perintah yang mudah dimengerti dibanding jenis lainnya. Perbandingan mudah atau susah dapat anda simpulkan jika anda sudah mencobanya. Juga perhatikan time delay dari mulai kita tekan tombol shoot sampai gambar selesai diambil (shutter lag), kamera tertentu ada yang delaynya sangat lama, tetapi ini juga berpengaruh dari kondisi ruang dan cahaya tempat kita mencoba kamera tersebut. Coba juga lensa zoomnya (optical zoom), apakah dapat digunakan dengan mudah dan cepat. Ketahuilah juga berapa lama waktu yang harus ditunggu dari mulai menghidupkan kamera sampai kamera siap untuk digunakan. Jangan lupa mencoba LCD dan viewfindernya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cari tahu informasi sebanyak-banyaknya&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Ada baiknya anda mengetahui terlebih dahulu kemampuan, spesifikasi, dan kekurangan dari kamera yang anda taksir untuk dibeli itu. Bertanya kepada pakar, atau orang yang sudah pernah menggunakan akan sangat membantu kita untuk menentukan apakah kamera tersebut layak untuk dibeli. Beberapa website di internet banyak memberikan review tentang kamera digital, mulai dari yang mengulas secara global sampai direview sedetail-detailnya. Tempat diskusi di Internet juga sangat dianjurkan untuk dijadikan referensi sebelum membeli kamera digital. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fitur tambahan&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Banyak kamera digital yang dilengkapi dengan fitur tambahan, salah satunya yang selalu ada adalah kemampuan untuk merekam gambar bergerak (video). Pada kamera digital, fitur ini hanyalah sebagai tambahan saja dan kemampuannya sangat terbatas. Harap anda tidak menentukan keputusan membeli kamera digital dari kemampuan kamera tersebut untuk merekam video. Hasil rekaman video dari kamera digital tidak akan bisa maksimal, kamera digital didesign untuk menghasilakan foto diam secara maksimum. Jika anda lebih berniat merekam video, sebaiknya dipertimbangkan untuk membeli handycam atau alat sejenis yang memang dibuat untuk merekam video. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertimbangkan membeli card reader&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
Card reader adalah alat tambahan yang digunakan untuk membaca memory card pada kamera digital. Pada saat kita membeli kamera digital, pasti sudah disertakan kabel dan driver untuk mentransfer/memindahkan foto dari kamera ke komputer. Namun jika kita menggunakan alat yang disebut card reader, maka kita akan menghemat waktu untuk mentransfer dari kamera ke komputer dan dilakukan dengan cara yang sangat mudah, selain itu jika kita menggunakan card reader, maka kamera kita tidak perlu dihidupkan (on) dan akhirnya kita juga bisa menghemat umur battery kita.&lt;br&gt;
&lt;em&gt;Kamera-Digital.com&lt;/em&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/tips_membeli_kamera_digital~2778567/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</description><category>camera</category><comments>http://hendraku.blog.co.uk/2007/08/09/tips_membeli_kamera_digital~2778567/#comments</comments></item></channel></rss>
